Hargai Pemeberian !! Pemberian Sangatlah Berharga

"AKU DATANG ENGKAU TOLAK, ENGKAU INGIN AKU PERGI"

Bertahun-tahun lamanya pasangan tidak dikaruniai anak oleh Sang Pencipta, yang menjadi kerinduan setiap orang yang menikah. Berbagai cara ditempuh, entahkah lewat dukun, dokter dan doa tapi hasilnya nihil. Dalam hati pasangan ini bertanya; "Apa salah kami Tuhan?" Tapi, Tuhan pun seakan diam dan tidak menjawab kerinduan hati mereka. Akhirnya, mereka pun seakan sudah capai untuk meminta kepada Sang Pencipta "anak" yang mereka sangat rindukan hadir di tengah mereka.

Karena mengenal sang romo sebagai romo paroki mereka, maka suatu ketika sang romo diundang ke rumah mereka di kota Tual, ibu kota Maluku Tenggara. Ketika memasuki rumah pasangan tersebut dan mulai bercerita-bercanda ria, sang romo lalu berkata kepada si suami; "Cobalah minggu depan kamu membawa istrimu untuk diperiksa oleh dokter." Apa, romo? Kata si suami. "Bawalah istrimu ke dokter untuk diperiksa kembali. Tapi ingat...bila memang Tuhan memberi kalian buah hati, maka jaga dan rawatlah dia dengan penuh cinta, demikian peringatan dini yang diberikan oleh sang Romo kepada pasangan itu. Teringatlah si suami akan iman Petrus ketika disuruh oleh Sang Guru untuk menyebarkan jalannya; "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."(Luk.5:5). Si suami kemudian menjawab; Baik romo, aku akan membawa istriku ke dokter dalam minggu ini."


Air mata keharuan jatuh di pelipis pipi sang istri sementara si suami memandang heran kepada sang dokter. Untuk meyakinkan pasangan itu, dokter berkata lagi; "Istrimu sedang mengandung." Kata tak dapat terucap dari bibir, hanya hati yang memandang lurus kepada Sang Khalik karena Ia yang dikira diam membisu kini telah memberikan kepada pasangan itu seorang anak untuk memenuhi kerinduan hati mereka seperti kerinduan Abraham dan Sara, Zakharia dan Elizabeth. Terima kasih Tuhan...Terima kasih Tuhan.

Hari-hari selanjutnya dijalani dengan penuh suka cita. Mungkin karena hati dan jiwa diliputi rasa suka cita, otak pun kadang tidak berpikir panjang tentang apa yang seharusnya dibuat dan apa yang sebaliknya tidak demi menjaga dan merawat si buah hati pemberian Sang Khalik itu. Obat-obat tradisional tawaran dari para tetangga alias dukun-dukun desa pun mulai dikonsumsi, sedangkan dokter dunia dan dokter Ajaib pun mulai enggan dikunjungi.

Tiba-tiba terdengarlah ketukan di pintu kamar sang Romo. Ketika membuka pintu, kelihatanlah seorang sepupu dari pasangan itu, yang memohon dengan sangat agar sang Romo mengunjungi bayi dan ibunya di rumah sakit di kota Tual. Ketika tiba di sana, ternyata "sang bayi terlahir prematur dan tidak bisa diselamatkan lagi" akibat konsumsi obat yang berlebihan dari si ibu. Menahan amarah yang membara di hati, sang Romo berkata kepada mereka; "Bukankah aku sudah mengingatkan kalian sejak awal bahwa kalian harus memelihara pemberian Sang Khalik?" Ya, beginilah hasilnya. Karena kalian tidak mau menjaganya maka pasti ia berkata: "AKU DATANG ENGKAU TOLAK, ENGKAU INGIN TAPI AKU HARUS PERGI." Terima kasih mama atas kehangatan kandunganmu, tapi aku harus kembali kepada Dia, yang dari-Nya aku telah terberi kepada mama. Mungkin itulah jeritan jiwa sang bayi. Sungguh, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan."

Kisah kerinduan pasangan yang mendambakan buah hati; Mereka meminta dari Tuhan dan Ia memberi, namun mereka tidak menjaga dengan baik pemberian itu, maka Sang Pemberi pun dengan bebas mengambil kembali dari pada mereka apa yang telah diberikan-Nya karena sesungguhnya mereka tidak menghargai pemberian-Nya.





 Sumber :  http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151206102524638&set=a.99350589637.111403.91119074637&type=1

0 komentar:

Posting Komentar

Lim Wimby. Diberdayakan oleh Blogger.

Yuki-No-Hana by Nguyet Nu